Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Antara Islam dan Modernisme menurut Pandangan Muhammad Arkoun

Rabu, 05 Januari 2011


Pendahuluan

Kita telah mengetahui bahwa apa itu modernisme dan apa pula yang dihasilkan. Dengan adanya modernisme maka manusia tidak lagi menjadi saling empati, tidak lagi menjadi saling mempunyai rasa sebagai makhluk social yang saling bergantung antar sesamanya dan tidak lagi mempunyai sikap kepedulian.

Modernisme pada nyatanya telah merusak sendi-sendi kehidupan yang ideal. Sehingga banyak dari golongan-golongan menolak adanya modenisme dan kembali menyeru kepada zaman klasik, karena pada nyatanya pada zaman klasik permasalahan dapat terselesaikan dengan baik dan tidak menjadi sebuah ancaman baik dari segi moral maupun segi eksistensi manusia dan lingkungan, dan pada akhirnya hegemoni prinsip-prinsip modernisme dapat segera luntur.

print this page Print this page

Kebebasan Beragama

Kamis, 04 November 2010


Pendahuluan

Salah satu tema yang tak akan pernah hilang atau lapuk ditelan oleh zaman seputar tentang hal yang bersifat social adalah kebebasan beragama. Faktanya semakin banyak manusia yang lahir maka semakin banyak pula aliran-aliran keagamaan yang eksis, sehingga terkadang aliran agama yang dirasa muncul lebih dahulu dengan bangunan teologi yang sudah solid dan diyakini oleh para pengikutnya menjadi tercerai-berai kembali dikarenakan para pengikutnya merasa aliran agamanya telah tersaingi atas aliran agama baru tersebut, dan pada akhirnya timbullah kemarahan dan rasa untuk melawan aliran agama baru tersebut. Maka hal inilah yang terkadang banyak menyulut tentang permasalahan intoleransi beragama, meskipun Deklarasi Hak Asasi Manusia pada tahun 1945 telah dilangsungkan dengan menyinggung permasalahan kebebasan beragama.

Harus kita akui bahwa manusia yang telah ditakdirkan tercipta bersuku-suku ini, secara otomatis telah membuka ruang gerak baru bagi manusia untuk merengkuh Tuhannya. Akan tetapi hal tersebut kadang sangat sulit sekali dimaklumi oleh beberapa kalangan. Sehingga paksaan dalam bentuk kekerasan beragama masih saja terus terjadi dan hak asasi manusia masih sering sekali terlupakan.

Akan tetapi, sejatinya seperti apakah kebebasan beragama itu? Apakah kebebasan beragama itu artinya membiarkan orang lain yang berbeda agama dengan kita untuk berpotensi menjadi kafir? Apakah kita harus melulu sibuk dengan keyakinan diri kita sendiri dan acuh kepada keyakinan mereka? Karena mengingat bahwa keimanan itu tidak boleh dipaksakan? Maka makalah ini akan membahas kesemuanya.

print this page Print this page

Hobbes, Spinoza dan Leibniz Menanggapi Substansi

Kamis, 30 September 2010

Pendahuluan

Dalam bukti perkembangan ilmu pengetahuan, bagai sendok yang selalu bergandengan dengan garpu, konon filsafat juga selalu mempunyai andil dalam memberikan pondasi-pondasi teori pengetahuan, sehingga dikatakan filsafat menjadi topangan suatu pengetahuan tersebut untuk berpijak. Seperti contoh tentang pemahaman tentang diri manusia yang berderivasi ke dalam ilmu-ilmu yang bersifat psikis dan realitas alam sekitar yang terderivasi ke dalam ilmu-ilmu yang bersifat scientist. Kesemuanya mulanya lahir dari teori-teori filsafat. Begitu banyaknya pengaruh filsafat, sampai-sampai segala macam ilmu dapat dipahami dan diurai melalui pembahasan filsafat.

Pengaruh filsafat yang kian jelas dalam ilmu pengetahuan ini tentunya tidak akan akan terjadi jika perkembangan filsafat untuk meluas ke seluruh dunia terhambat atau bahkan tidak berkembang sama sekali. Filsafat yang pada awalnya lahir di dalam atmosfer kehidupan masyarakat Yunani yang dikembangkan oleh filosof Yunani kuno seperti Socrates, Plato dan muridnya Aristoteles menjadi momok yang sangat jelas bagi masyarakat di sekitarnya seperti kaum sofis dan lainnya dan pada akhirnya ajaran filsafat menang dan berkembang pesat di Yunani.

print this page Print this page

Kemerdekaan, Sebuah Ajang Untuk Menunjukkan Jati Diri Bangsa

Rabu, 11 Agustus 2010


Pendahuluan

Kemerdekaan Negara kita sebentar lagi akan kita rayakan. Beragam upaya perayaan akan kita laksanakan dengan suka cita. Siapapun pasti mendambakan sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan adalah tuntutan fitrah kita yang selama ini kita idam-idamkan dengan bantuan tinjauan akal. Akal mengarahkan kita untuk meraih kemerdekaan kita, baik secara batin, fisik maupun secara social.

Akan tetapi dalam mengusahakan sebuah kemerdekaan, akal seringkali juga menjerumuskan pemiliknya. Seperti contoh tentang adanya tuntutan hak asasi manusia yang sebebas-bebasnya tanpa adanya ikatan peraturan agar tidak melencengnya kemerdekaan hak yang dituntutnya. Maka agama-lah yang bertugas untuk menyetirnya dengan memberikan batasan-batasan, sehingga kemerdekaan diri tidak bersikap sewenang-wenang dan melampaui batas.

print this page Print this page

Sigmund Freud, Sang Pembaharu Dunia Psikologi

Kamis, 15 Juli 2010


Sigmund Freud, seorang filosof kontemporer pemula cikal bakal psikoanalisa, dilahirkan tahun 1856 di kota Freiberg yang kini terletak di Cekoslovakia. Tatkala dia berumur empat tahun, keluarganya pindah ke Wina dan di situlah dia menghabiskan hampir seluruh hidupnya. Freud seorang mahasiswa yang pandai di sekolahnya, ibunya menyarankan kepada dirinya untuk menjadi seorang dokter, tetapi na’asnya ia malah takut akan darah. Sehingga dipikirkan sebuah teori analisa terhadap manusia yang terlepas dari darah akan tetapi terkait dengan ilmu kedokteran, maka jadilah sebuah rumusan bahasan psikoanalisa. Sehingga ia berhasil meraih gelar sarjana kedokteran dari Universitas Wina tahun 1881.

Psikoanalisa dipahami sebagai sebuah “pengetahuan untuk membaca/science of reading”, yakni membaca psyche/mental apparatus yang merupakan lawan dari badan, menurut Freud psyche ini bertugas untuk melihat unconscious/nir-sadar. Masih merujuk pada argument Freud, bahwa sebenarnya manusia ini terdiri dari tiga hal, yakni badan/body, sadar/conscious dan nir-sadar/unconscious, dan yang paling dominan adalah nir-sadar/unconscious.

print this page Print this page

Peran Seni dalam Kehidupan Spiritual

Kamis, 01 Juli 2010


Pendahuluan

Semua manusia pasti sudah mengetahui apa itu kesenian, kesenian lahir dari otak kanan manusia. Dalam keberadaannya seni selalu ditopang dengan adanya kreatifitas manusia itu sendiri dalam berekspresi, sehingga menimbulkan apresiasi-apresiasi tertentu yang diberikan oleh manusia yang menikmati karya seni itu. Akan tetapi pernahkah ada yang memahami bahwa sebenarnya kesenian itu juga merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan? Dalam perkembangannya seni pada hakikatnya terbagi menjadi empat dan terpilah-pilah menjadi beberapa corak, salah satunya adalah the sacred art/seni sakral. Seni sacral inilah yang mempengaruhi manusia untuk lebih dekat kepada Tuhannya. Seperti apakah seni sacral itu? Apa perbedaan antara seni sacral, seni profane, seni agama dan seni tradisional? Dalam makalah ini kajian tersebut akan dibahas atau dijelaskan secara mendalam.

print this page Print this page

Muhammad Taqi MIshbah Yazdi: Islam itu Universal

Rabu, 02 Juni 2010


Pendahuluan

Islam sebagaimana Islam dari zaman ke zaman telah dituntut untuk menjawab segala problematika di dunia yang kita diami ini. Maka dari itu, berkat dari usaha para intelektual kontemporer Islam untuk membuktikan validitas Islam, Islam berhasil menunjukkan jati dirinya dengan merambah ke segala lini dalam konteks kehidupan. Mulai dari permasalahan hukum ibadah, lalu ke permasalahan politik, sampai kepada hak asasi manusia. Serangan-serangan dari barat tidak menjadikan Islam makin termarginalkan tetapi islam makin berkembang.

Ayatullah MT Misbah Yazdi juga ikut andil atas hal ini, sebagai seorang filosof dan mutakallim, ia kerap memberikan sumbangsih pengetahuannya terhadap Islam, tidak terlepas atas serangan-serangan barat, MT Misbah Yazdi memberikan argumennya tentang universalitas Islam kala masa itu iklim pemikiran Iran telah diselimuti oleh doktrin-doktrin Marxisme yang materialis dan meruntuhkan nilai-nilai agama.

print this page Print this page

Memahami Watak Agama-Agama

Jumat, 09 April 2010


Oleh: Mahbib Khoiron


Apa nilai penting dari studi agama-agama? Pertanyaan ini mencuat bisa terjadi seiring dengan perkembangan nalar berpikir yang sinis bahwa agama tak ubahnya budaya masyarakat yang tak memiliki peran fundamental dalam melatari segenap aktifitas para penganutnya. Tentu hal demikian menyedeerhanakan masalah. Karena buktinya beragam peradaban di dunia ini dari soal kemajuan pesatnya sampai titik akhir kehancurannya selalu melibatkan agama-agama. Itu artinya, agama memang menyimmpan potensi ganda, yakni memompa jalan kehidupan manusia untuk naik ke atas atau justru memerosotkan kelebihan-kelebihan yang semestinya dicapai kepada lembah keterpurukan.

Tengok saja beberapa fakta yang ada di negara-negara maju seperti Jepang dan India. Potensi transformatif yang termuat dari ajaran Shinto nyatanya memacu negara Jepang untuk menuai sebuah kemajuan. Demikian pula dengan India, yang sanggup hidup secara independen dalam hal ekonomi lantaran doktrin Swadesi yang mereka anut memberi anjuran dan dukungan penuh pada watak kemandirian masyarakat India. Kenyataan ini mungkin sangat kontras dengan apa yang terjadi di Turki. Negara sekuler ini berupaya keras membuang agama dari kehidupan politik. Mungkin ini dilatari oleh motivasi baik menciptakan kehidupan politik yang lepas dari kepentingan ideologis apapun, karena negara seyogyanya menjadi ‘rumah bersama’ dan berlabuhnya cita-cita kesejahteraan bersama. Apalagi peristiwa traumatik pada abad pertengahan yang dipertontonkan di penjuru Barat sana cukup meyakinkan khalayak umum bahwa agama memiliki kekolotannya sendiri yang irasional. Namun apa yang kita skasikan di Turki pasca penerapan ideologi sekulerisme ini? Negeri ini jatuh pada keterpurukan lantaran membanjirnya protes keras dari para agamawan yang merasa tidak terserap aspirasinya dan hak-hak individualnya.

print this page Print this page

Politik Ala Ibn Taimiyah

Selasa, 30 Maret 2010


Politik yang banyak masyarakat kenal dewasa ini seringkali diartikan sebagai perihal yang kotor, yang menjadi jurang bagi pelaksananya dan menjadikan pelaksananya tersebut sebagai orang-orang yang diklaim buruk. Terkadang ada yang menganggap pula bahwa politik menghantarkan pelaksananya untuk berfikir sebagai orang-orang yang melupakan nilai-nilai keagamaan yang selalu menjunjung tinggi nilai budi luhur, sehingga langkah yang diambilnya menjadikan ia bertindak tidak adil. Memang politik yang bersifat seperti ini ada pada kalangan kita, terutama di negeri kita tercinta.

Oleh karena itu Ibn Taimiyah dalam menangggapi masalah ini, ia memberikan solusinya, sebagai jalan tengah untuk memberikan pandangan baru kepada khalayak bahwa politik tidaklah buruk seperti yang selama ini dinilai. Kita ketahui secara tidak langsung Rasulullah saww dalam kehidupannya berkecimpung dalam politik. Baginya, agar politik mendapat tempat sebagaimana mestinya, maka agama haruslah mendampinginya supaya tetap sehat dan berada pada keluhuran nilai-nilai agama. Politik yang berasaskan agama ini dinamakan dengan Al-Siyâsah Al-Syar‘iyyah/Pemerintahan Syariat.

print this page Print this page

Rene Descartes Dalam Kancah Ilmu Pengetahuan

Senin, 15 Maret 2010


Pendahuluan
Di desa La Haye-lah tahun 1596 lahir jabang bayi Rene Descartes, filosof, ilmuwan, matematikus Perancis yang tersohor. Waktu mudanya dia menghabiskan masa studinya di sekolah Yesuit, College La Fleche. Begitu umur dua puluh dia dapat gelar ahli hukum dari Universitas Poitiers walau tidak pernah mempraktekkan ilmunya sama sekali. Meskipun Descartes memperoleh pendidikan yang baik, tetapi dia yakin betul tak ada ilmu apa pun yang bisa dipercaya tanpa penalaran logika seperti contohnya dalam bidang matematika. Karena itu, bukannya dia meneruskan pendidikan formalnya, melainkan ambil keputusan untuk berkelana keliling Eropa dan melihat dunia dengan mata kepala sendiri. Berkat dasarnya berasal dari keluarga berada, mungkinlah dia mengembara kian kemari dengan leluasa dan longgar.
Sepak Terjangnya dalam Ilmu pengetahuan
Dari tahun 1616 hingga 1628, Descartes betul-betul berkeliling ke sana kemari, dari satu negeri ke negeri lain. Dia masuk tiga dinas ketentaraan yang berbeda-beda (Belanda, Bavaria dan Honggaria), walaupun tampaknya dia tidak pernah ikut bertempur sama sekali. Dikunjungi pula Italia, Polandia, Denmark dan negeri-negeri lainnya. Dalam tahun-tahun ini, dia menghimpun apa saja yang dianggapnya merupakan metode umum untuk menemukan kebenaran. Ketika umurnya tiga puluh dua tahun, Descartes memutuskan menggunakan metodenya dalam suatu percobaan membangun gambaran dunia yang sesungguhnya. Dia lantas menetap di Negeri Belanda dan tinggal di sana selama tidak kurang dari dua puluh satu tahun. (Dipilihnya Negeri Belanda karena negeri itu dianggapnya menyediakan kebebasan intelektual yang lebih besar ketimbang lain-lain negeri, dan karena dia ingin menjauhkan diri dari Paris yang kehidupan sosialnya tidak memberikan ketenangan cukup).

print this page Print this page

Aristoteles, Filosof Terbaik Sepanjang Masa

Selasa, 09 Maret 2010


Pendahuluan
Nyaris tak terbantahkan, bahwa Aristoteles adalah seorang filosof dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa lampau. Dia memelopori penyelidikan perihal logika khususnya tentang diskursus silogisme, memperkaya hampir tiap cabang filsafat dan memberi sumbangsih tak terperikan besarnya terhadap ilmu pengetahuan.
Banyak ide-ide Aristoteles yang kini terbilang sudah ketinggalan jaman. Tetapi yang paling penting dari apa yang pernah dilakukan Aristoteles adalah pendekatan rasional yang senantiasa melandasi karyanya. Tercermin dalam tulisan-tulisan Aristoteles dlam sikapnya bahwa tiap segi kehidupan manusia atau masyarakat selalu terbuka untuk obyek pemikiran dan analisa. Pendapat Aristoteles, alam semesta tidaklah dikendalikan oleh serba kebetulan, oleh hal yang bersifat magis, oleh keinginan yang tak terjajaki kehendak dewa yang terduga, melainkan tingkah laku alam semesta itu tunduk pada hukum-hukum rasional. Kepercayaan ini menurut Aristoteles diperlukan bagi manusia untuk mempertanyakan tiap aspek dunia alamiah secara sistematis dan kita mesti memanfaatkan baik pengamatan empiris dan alasan-alasan yang logis sebelum mengambil keputusan. Rangkaian sikap-sikap ini --yang bertolak belakang dengan tradisi, takhyul dan mistik-- telah mempengaruhi secara mendalam peradaban Eropa.

print this page Print this page

Sejarah Singkat Tentang Voltaire

Jumat, 19 Februari 2010


Kredibilitasnya

Voltaire itu sebetulnya nama samaran. Nama yang diberikan bapaknya ketika dia diseret keluar oleh bidan adalah Francois Marie Arouet. Siapa pun panggilannya, yang jelas dia adalah tokoh terkemuka pembaharu Perancis. Ia merangkap profesi banyak yaitu penyair, penulis drama, penulis esai, penulis cerita pendek, ahli sejarah, dan profesi terakhir yang paling dikenal khalayak ramai, yaitu sebagai filosof. Dia betul-betul juru bicaranya para pemikiir bebas liberal.

print this page Print this page

Wahdatul Wujud, Serta Perbedaan Teori Wujud Sufi dan Teori Wujud Filosof

Kamis, 21 Januari 2010


Pendahuluan

Pembahasan tentang Tuhan sungguh telah menjadi pembahasan yang tiada habisnya. Dalam setiap zaman Tuhan selalu ingin diketahui oleh makhluk-Nya, hal ini berangkat dari fitrah manusia yang mempunyai rasa ingin tahu dan rasa apresiasi yang tinggi. Maka atas itu, muncullah macam-macam disiplin ilmu yang membahas tentang Tuhan. Seperti contohnya Filsafat dan Tasawuf yang masing-masing memiliki metode yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda, akan tetapi memulai start tentang pembahasan Tuhan dalam tempat yang sama, yakni dari bahasan wujud.

print this page Print this page

Penjelasan Ilmu Pengetahuan

Jumat, 25 Desember 2009

Pendahuluan

Tujuan yang paling mendasar dari adanya sebuah ilmu pengetahuan itu adalah bukan terapannya, akan tetapi bagaimana ilmu pengetahuan tersebut dapat dipahami lewat penjelasannya. Karena jika dapat dipahami maka sudah pasti bahwa ilmu pengetahuan tersebut dapat teraplikasi dan dianggap ilmiah. Maka dari itu dibutuhkan sebuah penjelasan ilmiah guna menjelaskan ilmu pengetahuan. Tapi apa sebenarnya penjelasan ilmiah itu? Apa sebenarnya artinya mengatakan bahwa suatu fenomena dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan? Ini adalah pertanyaan yang telah digunakan filsuf sejak zaman Aristoteles, tapi diskursus tersebut lebih dipertanyakan lagi pada tahun sekitar 1950-an oleh seorang filsuf berkebangsaan Amerika yang bernama Carl Hempel dalam the covering law model.

print this page Print this page

Imam Mahdi Versi Syiah dan Ahlussunnah

Kamis, 22 Oktober 2009


Pendahuluan

Semua agama baik yang samawî maupun ardhî, pada dasarnya hanyalah mengajarkan kebaikan dan menentang keburukan serta kedurjanaan. Oleh karena itu semua agama memiliki perisai-perisai yang digunakan untuk menangkis keburukan tersebut. Dalam Islam misalnya, terdapat Al-Qur’ân dan Hadîts yang merupakan salah satu hujjah Allah untuk manusia guna menangkis segala godaan setan yang bertujuan untuk menyesatkan manusia. Pun juga seorang nabi juga dihadirkan untuk memerangi godaan setan.

Seperti yang telah dijanjikan oleh Allah kepada setan, bahwa ia diberikan umur panjang sampai pada hari kiamat nanti, sedangkan para nabi sebagai penjelas dari kitab-kitab Allah,yang merupakan manusia biasa, yang terbatas pada masa atau umur sewaktu-waktu dapat menginggal begitu saja. Padahal,”setiap kaum harus memiliki pembimbing-nya.

print this page Print this page

Mullâ Shadrâ, Kiprahnya dalam Dunia Filsafat

Minggu, 12 Juli 2009


Biografi

Namanya adalah Shadr Al-Dîn Al-Syirâzî yang terkenal dengan sebutan nama Mullâ Shadrâ, Mullâ Shadrâ dilahirkan di Syiraz pada 1572, lalu pindah ke Isfahan, yakni sebuah kota pusat studi di wilayah Persia yang penting pada masa itu. Di Isfahan, Mullâ Shadrâ berguru kepada dua filosof yang terkenal sebelumnya, yaitu Mîr Dâmad dan Mîr Abû Al-Qâsim Findereski (w. 1640), lalu ia kembali lagi kekota kelahirannya untuk menjadi dosen pada sebuah perguruan tinggi di sana. Konon, Mulla Shadra pernah melaksanakan ibadah haji dengan berjalan kaki sebanyak tujuh kali, dan wafat di Bashrah sekembalinya dari ibadah haji yang ketujuh pada tahun 1641.

print this page Print this page

Konstitusi di mata Aristoteles

Sabtu, 11 Juli 2009


Pendahuluan

Konstitusi, merupakan hal yang sangat penting bagi ruang lingkup suatu negara. Karena konstitusilah yang memberikan aturan-aturan dalam ruang lingkup negara tersebut. Tanpa adanya dari konstitusi maka segala sesuatu bentuk aturan-aturan yang ada dalam suatu negara tidak dapat terealisasi, sehingga akan berdampak buruk bagi suatu negara tersebut. Aristoteles telah menekankan bahwa “warga negara yang baik harus dapat mengetahui dan mempunyai kemampuan baik diatur oleh peraturan-peraturan konstitusi maupun mengatur jalannya sistem konstitusi. Hal inilah yang merupakan keluhuran budi dari warga negara serta mempunyai pengetahuan tentang aturan pada orang-orang merdeka dari kedua sudut pandang.”
Dalam makalah ini, penulis akan memberikan sejumlah keterangan-keterangan tentang konstitusi serta dampak yang terkait untuk negara yang melaksanakannya. Dan juga akan diangkat pula pendapat dari seorang tokoh filosof terkenal yaitu Aristoteles.
Bagaimana beliau menanggapi sebuah konstitusi bagi suatu negara pada konsep kewarganegaraan. Serta pembagian yang telah dibuat oleh Aristoteles tentang konstitusi yang berdasarkan pemikirannya. Dan juga akan dibahas pula bagaimana konstitusi yang selama ini berjalan di Indonesia.

print this page Print this page

Imam Khomeinî dan Wilâyah Al-Faqîh

Kamis, 09 Juli 2009



Pendahuluan

Selama ini, banyak berbagai macam tokoh memberikan gagasan tentang teori kepemimpinannya. Ada yang memberikan gagasan tentang demokrasi yang dipandang sebagai contoh bentuk sistem kepemimpinan yang ideal dengan kedaulatan rakyatnya, karena kesemuanya adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Ada juga yang memberikan tentang monarki, baik itu yang bersifat absolut atau konstitusi yang dirasa memiliki keunggulan tersendiri. Ada juga teo-demokrasi yang dianut oleh system pemerintahan wilâyah al-faqîh yang mengubah tatanan hidup masyarakat Iran yang awalnya kebarat-baratan menjadi islami, yang digerakkan oleh Imam Khomeini. Bagaimana konsep pemerintahan Islam menurut beliau? Begitu juga tentang bahasan Wilâyah Al-Faqîh, seperti apakah konsep wilâyah al-faqîh? Apa yang melatar belakanginya? Bagaimana pula perbedaan yang melatar belakangi antara Imam Khomeinî dan ‘Alî Syariatî? Makalah ini akan memberikan sedikit gambarannya.

Sekilas Tentang Biografi Imam Khomeini

Namanya adalah Ayatullah Sayyid Rûhullah Al-Mûsawî, beliau lahir di Khomein yang merupakan sebuah kampung kecil di Iran Tengah pada tanggal 24 oktober 1902. Keluarganya adalah keluarga Sayyid Mûsawî, yakni keturunan Nabi yang berasal dari jalur Imam Mûsa Al-Kadzim yang berasal dari Naisabûr, sebuah kota di wilayah timur laut Iran. Ayahnya bernama Sayyid Musthafâ.

print this page Print this page

Abû Al-A'lâ Al-Maududî


Abû al-A'lâ al-Maudûdî dan "Negara Islam"-nya*

Oleh Mahbib Khoiron

Latar Historis
Di Aurangabad, India Selatan, pada 3 Rajab 1321 H (25 September 1903 M) lahir seorang pemikir muslim bereputasi internasional bernama Abû al-A`lâ al-Maudûdî. Kehidupannya dalam kultur keluarga syarif (keluarga tokoh muslim India Utara) dari Delhi, yang bermukim Diccan telah membentuk pribadinya sebagai seorang muslim yang taat dan menguasai doktrin normatif Islam secara luas. Sayyid Ahmad Hasan, ayahnya, merupakan penganut setia sebuah ordo sufi. Secara akademis, sejak belia ia memang kaya dengan penempaan agama dari sang ayah. Tak heran, pada usia empat belas tahun beliau sudah berhasil menerjemahkan karya Qasim Amin ke dalam bahasa Arab bertajuk al-Mir'ât al-Jadîdah (Wanita Modern).

print this page Print this page

Manusia Menjadi

PENGANTAR

Jika ditilik dari segi bahasa, Manusia berasal dari akar kata “nasiya” yang mempunyai arti “lupa” mungkin penamaan ini merujuk pada kenyataan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyi sifat pelupa. manusia juga bisa disebut dengan “insan” dari kata dasar al-uns yang berarti “jinak” artinya, manusia selalu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan keadaan yang baru disekitarnya.

Manusia juga dapat diartikan berbeda-beda jika ditinjau dari segi biologis, rohani, kebudayaan ataupun campuran. Dari segi biologis misalnya, manusia dikelompokkan kedalam golongan Homo Sapiens yaitu sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dari segi rohani/agama, manusia adalah mahluk yang terdiri dari aspek jasmani dan ruhani atau jasad dan jiwa, dimana jiwa adalah percikan dari ruh Tuhan yang bersemayam dalam tubuh manusia, sehingga dengan perantaraan jiwa ini manusia dekat dengan Tuhannya.

print this page Print this page

 
 
 

Followers