Penjelasan Ilmu Pengetahuan

Jumat, 25 Desember 2009

Pendahuluan

Tujuan yang paling mendasar dari adanya sebuah ilmu pengetahuan itu adalah bukan terapannya, akan tetapi bagaimana ilmu pengetahuan tersebut dapat dipahami lewat penjelasannya. Karena jika dapat dipahami maka sudah pasti bahwa ilmu pengetahuan tersebut dapat teraplikasi dan dianggap ilmiah. Maka dari itu dibutuhkan sebuah penjelasan ilmiah guna menjelaskan ilmu pengetahuan. Tapi apa sebenarnya penjelasan ilmiah itu? Apa sebenarnya artinya mengatakan bahwa suatu fenomena dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan? Ini adalah pertanyaan yang telah digunakan filsuf sejak zaman Aristoteles, tapi diskursus tersebut lebih dipertanyakan lagi pada tahun sekitar 1950-an oleh seorang filsuf berkebangsaan Amerika yang bernama Carl Hempel dalam the covering law model.



The Covering Law Model

Sebuah Ide dasar dibalik the covering law model adalah sangat mudah. Hempel mencatat bahwa penjelasan ilmiah biasanya diberikan sebagai respons terhadap apa yang ia sebut dengan “why question” atau pertanyaan mengapa. Contohnya seperti, mengapa bentuk bumi tidak bulat sempurna? Mengapa wanita hidup lebih lama daripada laki-laki? dan sebagainya. Why question adalah representasi tuntutan agar sesuatu yang dipertanyakan mendapat penjelasan secara ilmiah. Hempel menyatakan bahwa penjelasan ilmiah biasanya memiliki struktur logis dari sebuah argumen, yaitu dua premis diikuti oleh kesimpulan.

Kesimpulan menyatakan bahwa kebutuhan menjelaskan fenomena yang benar-benar terjadi, dan memberi tahu bahwa kedua premis adalah kesimpulan yang benar. Jadi misalkan seseorang bertanya mengapa gula larut dalam air? Ini adalah contoh why question. Untuk menjawabnya, kata Hempel, kita harus membuat sebuah argumen yang kesimpulannya adalah gula larut dalam air diikuti oleh kedua premis yang memberitahukan mengapa kesimpulan ini benar. Tugas memberikan penjelasan ilmiah kemudian menjadi tugas yang tepat untuk menggambarkan relasi yang harus terus bergabung, yakni antara kedua premis dan sebuah kesimpulan. Akan tetapi kedua premis tersebut dikatakan benar jika salah satunya terdiri dari “general laws’ atau hukum umum, seperti contoh semua logam menghantarkan listrik, percepatan sebuah benda berbanding terbalik dengan massa, semua tumbuhan mengandung klorofil dan lainnya. Setelah kita memiliki hukum umum dan satu premis lagi memberikan fakta-fakta tertentu yang bersifat partikular.

Seperti contoh, mengapa tanaman di meja mati? Karena tidak ada cahaya matahari yang mencapai tanaman, sedangkan sinar matahari dibutuhkan oleh tanaman untuk fotosintesis, dan tanpa fotosintesis tanaman tidak dapat membuat karbohidrat yang dibutuhkan untuk tetap hidup. Maka tanaman tersebut mati. Maka seperti itulah the covering law model. Yakni menjelaskan kematian tanaman dengan menyusun kesimpulan dari undang-undang yang benar. Berikut adalah skema the covering law model:

General Laws + Particular Fact = Phenomena that Explained

Fenomena yang dijelaskan disebut dengan “Explanandum”, sedangkan hukum-hukum umum dan fakta tertentu disebut dengan “Explanans”.

Penjelasan dan kausalitas

Sejak the covering law model begitu banyak memecahkan masalah, maka the covering law model digunakan sebagai alternatif untuk mencari dan memahami penjelasan ilmiah. Beberapa filsuf percaya bahwa kuncinya terletak pada konsep kausalitas. Ini adalah himbauan yang cukup menarik. Bahwa ketika kita dalam banyak kasus untuk menjelaskan sebuah fenomena kita harus mengatakan apa yang menyebabkannya terjadi. Contohnya jika seorang penyelidik kecelakaan mencoba untuk menjelaskan sebuah kecelakaan pesawat, ia jelas mencari penyebab kecelakaan 'Sesungguhnya, pertanyaan-pertanyaan' mengapa kecelakaan pesawat? dan apa penyebab kecelakaan pesawat? Maka otomatis akan terpraktek. 'Demikian pula' jika seorang ahli lingkungan hidup mencoba menjelaskan mengapa ada sedikit keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis daripada biasanya? Maka jelas sekali bahwa ia sedang mencari penyebab penurunan keanekaragaman hayati. Intinya hubungan antara konsep penjelasan dan kausalitas sangat intim.

Namun sangat mengagetkan, sejumlah filsuf telah meninggalkan The covering law model dan lebih memilih hukum kausalitas. Detailnya banyak, tetapi ide dasar di balik tersebut adalah bahwa untuk menjelaskan suatu fenomena hanya untuk mengatakan apa yang menyebabkannya. Dalam beberapa kasus, perbedaan antara The covering law dan hukum sebab-akibat sebenarnya tidaklah sangat besar, yakni untuk menarik kesimpulan terhadap suatu fenomena yang terjadi dari hukum umum dan juga memberikan penyebabnya. Sebagai contoh, kita ingat lagi penjelasan Newton mengapa orbit planet adalah elips. Kita melihat bahwa penjelasan ini berangkat sesuai dengan The covering law model. Maka Newton menyimpulkan bentuk orbit planet dari hukum gravitasinya, ditambah beberapa fakta tambahan. Tetapi penjelasan Newton juga merupakan satu sebab-akibat. Karena orbit planet disebabkan oleh gaya tarik gravitasi antara planet dan matahari.

Akan tetapi The covering law tidak dapat dikatakan sama dengan hukum kausalitas. Karena dibeberapa kasus lain keduanya berbeda. Tentu saja banyak dari para filsuf lebih condong terhadap hukum kausalitas, karena mereka pikir itu dapat menghindari beberapa masalah yang dimiliki The covering law model. Seperti contoh tentang adanya satu tiang bendera yang panjangnya 15 meter di sebuah lapangan, dengan disinari sudut elevasi 37 derajat oleh matahari maka bayangan yang dihasilkannya adalah 20 meter. Mengapa intuisi kita mengatakan bahwa tinggi dari tiang bendera menjelaskan panjang bayangannya? Masuk akal sekali, karena tinggi tiang bendera adalah penyebab dari timbulnya bayangan yang panjangnya 20 meter, akan tetapi bayangan yang panjangnya 20 meter tersebut bukan disebabkan oleh panjangnya tiang bendera saja yang hanya 15 meter. Jadi dalam kasus ini hukum kausalitas memberikan jawaban yang lebih tepat. Hukum kausalitas juga memberikan apresiasi terhadap intuisi kita bahwa kita tidak dapat menjelaskan tinggi dari tiang bendera dengan menitikberatkan panjangnya atas bayangan yang dihasilkan. Sedangkan The covering law model memberikan penjelasan bahwa tinggi tiang bendera disimpulkan dari panjang bayang-bayang dan sudut elevasi matahari, bersama dengan hukum cahaya yang bergerak dalam garis lurus dan hukum-hukum trigonometri. Seperti contoh di bawah ini:

General Laws = hukum cahaya yang bergerak lurus dan hukum trigonometri + Particular Fact = sudut elevasi matahari 37 derajat dan panjang bayangan 20 meter = Phenomena that Explained = maka akan menghasilkan pemahaman kepada kita bahwa tiang bendera tersebut panjangnya 15 meter

Kelemahan dari The covering law model adalah ia berangkat dari metode silogisme yang hanya menjamin kebenaran dari struktur kalimat dan juga terkadang bertentangan dengan fakta yang ada. Selain itu penilaiannya juga berdasarkan analisa penelitian yang digeneralisir. Semisal seseorang tidak akan gemuk di karenakan pola diet. Hal ini sudah digeneralisir terlebih dahulu dalam jumlah penelitian yang banyak, akan tetapi banyaknya penelitian itu tidak dapat dijadikan statement yang pasti bahwa diet memang mencegah kegemukan. Contoh lain, semisal ada seorang laki-laki yang bernama John dalam sebuah rumah sakit yang dipenuhi oleh wanita hamil, ia meminta pil KB secara rutin terhadap seorang dokter, sedangkan orang yang meminta pil KB secara rutin tidak akan hamil, oleh karena itu John tidak hamil.

General Laws = orang yang meminta pil KB secara rutin +

Particular Fact =John yang meminta pil KB dalam rumah sakit =

Phenomena that Explained = maka John tidak hamil

Hal ini tentu sangat tidak benar menurut hukum kausalitas, penyebab John tidak hamil bukan karena ia menggunakan pil KB secara rutin, akan tetapi John adalah seorang pria, seorang pria sudah barang pasti tidak akan hamil.

Oleh karena itu banyak dari para filsuf yang lebih memilih hukum kausalitas di banding The covering law model yang mempunyai analisa belum pasti, dikarenakan The covering law model hanya menjamin kebenaran dari struktur kalimat dan juga terkadang bertentangan dengan fakta yang ada semisal seorang pria tidak mungkin hamil. Seperti itulah kelemahan The covering law model. Maka dari itu ia dinamakan “covering” atau menutup, yakni statement yang ada jika mengalami anomali dapat ditutup dengan statement yang lain.

Dapatkah Ilmu Pengetahuan Menjelaskan Segala Sesuatu?

Ilmu pengetahuan modern bisa menjelaskan banyak hal tentang dunia kita hidup. Tetapi ada juga banyak fakta yang tidak dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, atau setidaknya tidak dijelaskan sepenuhnya. Asal usul kehidupan adalah salah satu contoh. Kita tahu bahwa sekitar 4 milyar tahun yang lalu, molekul yang mampu untuk menggandakan dirinya muncul dalam zaman purba, dan kehidupan berevolusi dimulai dari sana. Tetapi kita tidak mengerti bagaimana ia mereplikasi dirinya di tempat pertama. Contoh lain adalah kenyataan bahwa anak-anak autis cenderung memiliki daya ingat yang sangat bagus. Sejumlah penelitian dari anak-anak autis telah mengkonfirmasi fakta ini, tapi belum ada yang telah berhasil dalam menjelaskan itu. Banyak orang percaya bahwa pada akhirnya, ilmu pengetahuan akan dapat menjelaskan fakta-fakta semacam ini. Ini adalah pandangan yang masuk akal.

Biologi menunjukkan karyanya pada masalah asal usul kehidupan, dan hanya orang yang pesimis akan mengatakan mereka tidak akan pernah memecahkannya. Diakui masalahnya tidak mudah paling tidak karena sangat sulit untuk mengetahui kondisi apa yang di bumi 4 milyar tahun yang lalu itu seperti. Tapi tetap saja tidak ada alasan untuk berpikir bahwa asal usul kehidupan tidak akan pernah bisa dijelaskan. Demikian pula untuk daya ingat luar biasa yang di miliki anak autis.

Tapi apakah ini berarti bahwa pada prinsipnya ilmu pengetahuan dapat menjelaskan segalanya? Atau ada beberapa fenomena yang harus selamanya menghindari penjelasan ilmiah? Ini bukan pertanyaan yang mudah untuk menjawab. Di satu sisi, tampaknya kita akan terkesan arogan untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan bisa menjelaskan semuanya. Di sisi lain, tampaknya kita berpandangan pendek untuk menyatakan bahwa fenomena tertentu tidak pernah dapat dijelaskan secara ilmiah. Untuk perubahan dan mengembangkan terhadap pemahaman sesuatu melewati ilmu pengetahuan dirasa mempunyai progress yang sangat cepat, buktinya, sebuah fenomena yang tampak benar-benar tak dapat dijelaskan dimasa dahulu dari sudut-sudut ilmu pengetahuan sekarang dapat dengan mudah dijelaskan. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bahwa fenomena yang tidak dapat dijelaskan sekarang, di kemudian hari dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Akan tetapi para filsuf beranggapan lain, mereka beranggapan tidak selamanya ilmu pengetahuan dapat menjelaskan semua fenomena. Contohnya adalah kesadaran, yakni sebuah hal istimewa dalam berfikir. Banyak penelitian tentang kesadaran yang telah dikerjakan dan terus dilakukan, oleh para ilmuwan, psikolog, dan lain-lain. Tapi beberapa filsuf baru-baru ini menyatakan bahwa apa pun yang dihasilkan dari penelitian ini, tidak akan pernah sepenuhnya menjelaskan sifat kesadaran. Ada sesuatu yang secara intrinsik atau misterius tentang fenomena kesadaran ini. Apa alasannya? Dikarenakan kesadaran menghasilkan pengalaman yang bersifat subyektif yang jelas tidak dapat diterima oleh semua orang secara general. Semisal banyak dari orang yang memeluk agam Islam, akan tetapi hal yang membuat mereka sadar untuk menjadi memeluk Islam bermacam-macam, ada yang memeluk Islam berdasarkan pengalamannya atas pendalaman materi Ilmu Kalam, misal akan kemustahilannya bahwa Tuhan tidak tunggal, maka ia memeluk Islam. Ada juga yang sadar terhadap praktek amaliyah ilmu fiqh yang dirasa akan memberikan dampak baik kepada dirinya, maka ia memeluk Islam, dan banyak contoh lainnya.

Explanation and reduction

Pada dasarnya, adanya disiplin ilmu yang berbeda dirancang untuk menjelaskan berbagai jenis fenomena. Untuk menjelaskan mengapa karet tidak menghantarkan listrik adalah tugas fisika. untuk menjelaskan mengapa kura-kura memiliki kehidupan lama adalah tugas biologi. Untuk menjelaskan mengapa suku bunga tinggi menurunkan inflasi adalah tugas ekonomi, dan sebagainya. Singkatnya, ada pembagian kerja antara ilmu-ilmu yang berbeda masing-masing spesialisasi dalam dirinya sendiri menjelaskan serangkaian fenomena tertentu. Hal ini yang menjelaskan bahwa mengapa ilmu biasanya tidak bersaing dengan satu sama lain? - mengapa ahli biologi misalnya tidak khawatir bahwa fisikawan dan ekonom mungkin melanggar batas wilayah mereka?

Meskipun demikian, secara luas menyatakan bahwa cabang-cabang ilmu pengetahuan adalah berbeda, namun tidak juga bisa dikatakan berbeda, karena ada yang lebih mendasar dari yang lain. fisika biasanya dianggap sebagai ilmu yang paling mendasar dari semua. Mengapa? Karena objek yang dipelajari oleh ilmu-ilmu yang lain pada akhirnya terdiri dari partikel fisik yang merupakan hal yang dipelajari dalam ilmu fisika. Namun Apakah ini berarti bahwa, pada prinsipnya, fisika dapat menggolongkan di dalam dirinya semua ilmu? Karena mengingat semuanya terdiri dari partikel fisik. Kebanyakan filsuf menolak garis pemikiran ini. Lagi pula, tampaknya sangat tidak masuk akal jika kita dapat menjelaskan ilmu lain dengan fisika, seperti contoh menyusun kesimpulan hukum biologi dan ekonomi langsung dari hukum-hukum fisika. Maka ini sangat tidak dapat diandalkan karena ketiganya memiliki metodologi yang berbeda meskipun berasal dari hal yang sama.

Reference

Samir Okasha, Philosophy of Science



print this page Print this page

1 komentar:

Agung AP mengatakan...

Wow ilmunya banyak banget!! thanks ya :)

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar

 
 
 

Followers